Perak, 17-18 Oktober 2018, Ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia, sekaligus Ketua Prodi Magister Ilmu Falak Pascasarjana UIN Walisongo Semarang diundang sebagai pembicara utama dalam acara Southeast Asia-Regional Astronomy Seminar (Seminar Falak Nusantara). Acara yang dilaksanakan di INSTUN (Institut Tanah dan Ukur Negara) Kementrian Air, Tanah dan Sumber Asli, Tanjong Malim, Perak, Malaysia ini membuka wawasan keilmuan yang ternyata ilmu Falak tidak hanya sekedar integrasi fiqh dan sains. Dalam acara ini astronomi dikembangkan dan dikolaborasikan dengan keilmuan lainnya yang ditajuk dengan 4 hal yaitu observational astronomy, cultural astronomy, islamic astronomy, dan community astronomy.

Menarik, Ahamd Izzuddin mendapati kajian untuk menyampaikan perkembangan dan dinamika ilmu falak yang ada di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang memiliki peluang pengembangan ilmu falak, setelah berjalannya ilmu Falak di UIN Walisongo Semarang, berkembang dan meluas di beberapa kota diantaranya menjamur jurusan ilmu falak di bawah Fakultas Syariah seperti UIN Sunan Ampel, UIN Alaudin Makasar, dan dilanjut dengan universitas lainnya. Sejarah perkembangan ilmu falak diawali dengan adanya kitab-kitab yang dipelajari para ulama untuk disampaikan di Pondok Pesantren sebagai sambung ilmu dari pemikiran hisab rukyat Jazirah Arab. Salah satu contoh adalah al-Mathla’ al-said ala Rasdi al-Jadid yang merupakan rujukan untuk menelurkan banyak kitab falak di Indonesia. Sehingga perkembangan hisab rukyat di Indonesia tidak lepas dari jaringan ulama.

Perkembangan ilmu falak Nusantara atau dalam bahasa melayu diterjemahkan dengan pembangunan falak syar’i di Indonesia dapat diringkas menjadi beberapa topik yakni perkembangan cikal bakal ilmu falak di Pondok Pesantren, lahirnya Badan Hisab Rukyat di bawah Kementrian Agama Republik Indonesia, munculnya pendidikan resmi ilmu Falak di tingkat Perguruan Tinggi, lahirnya komunitas-komunitas ilmu Falak di banyak kota-kota Indonesia, dan adanya standarisasinya waktu ibadah oleh Kementrian Agama RI. Materi ini mendapat respon bagus dari para narasumber panel setelahnya dan Ahmad Izzuddin menanggapi bahwa kerangka berfikir dalam ilmu falak adalah integrasi dua keilmuan yakni fiqh dan sains. Pembahasan ilmu falak yang paling dikenal masyarakat yakni perbedaan dalam mengawali puasa dan idul fitri merupakan salah satu contoh di mana penetapan waktu khususnya kalender juga terkait tidak hanya tentang keilmuan, juga kemaslahatan kesatuan masyarakat.